14 December 2009

Singapore - Kuala Lumpur 2009 Journey

Day 1




Gak terasa tiga bulan berlalu, sejak perjalanan backpackerku ke Singapura dan Kuala Lumpur. Berhubung ini adalah pengalaman pertama berpetualang ke negeri orang seorang diri, jadi dua kota itulah yang menjadi destinasi perjalanan kali ini. Lain waktu, kota yang akan disinggahi pastinya akan lebih jauh lagi (Amiiiin).

Pesawat Air Asia QZ7784 yang ditumpangi bertolak ke Singapore pukul 14.15 WIB dan tiba di Bandara Changi pukul 16.25 waktu setempat, 30 menit lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan.

Oh yah, jangan lupa membawa fotokopi KTP, NPWP dan paspor (hal 1,2 dan 48). Pastikan juga membawa kartu NPWP kamu yang asli. Gak mau kan harus bayar biaya fiskal sebesar Rp 2.500.000,00?

Nyampai di Singapore, sifat narsis gue mendadak kumat, gara-gara ngelihat layanan internet gratis di bandara. Dengan cepat, jemariku menari di atas tuts keyboard, meng-update status di account Facebook-ku : ‘Rosa has just arrived safely at Changi airport’, hahaha...

Setelah bertanya ke sana-kemari, station MRT akhirnya ketemu juga. Yah, berhubung ini adalah liburan ala backpacker, taxi emang haram hukumnya untuk dinaiki karena muahaal ;p Stasionnya masih berada dalam kawasan bandara, jadi gak perlu jalan jauh-jauh. Pokoknya begitu selesai ambil bagasi dan pas melihat pintu exit, kita langsung belok kiri, jangan langsung keluar. Dari situ naik eskalator dan voila, stasion MRT-nya ada di sebelah kanan.

Awalnya gue sempat bingung karena gak tahu harus ngapain dulu. Gue hanya bengong menatap rute perjalanan MRT dan LRT yang memang dipasang di dalam setiap MRT. Gue gak tahu harus turun dimana untuk ke rumah kakak sepupu gue yang letaknya di Bukit Batok West Avenue.

Tapi untunglah, ada satu wanita keturunan India seumuran yang akhirnya memberitahukan untuk bertukar line kereta ketika sudah sampai di stasiun Jurong East. Jadi dari bandara, gue ngambil line hijau dengan rute bandara Changi ke Joo Koon sementara line kedua yang gue ambil warnanya merah dengan rute Jurong East ke Marina Bay.

Sumpah, rute perjalanan yang gue tempuh jauh banget dan gue harus ngeluarin S$ 1,98 untuk perjalanan hari itu. Gak disangka, sisa saldo di kartu EZ Link yang gue bawa dari Jakarta cuma tersisa S$ 1, jadinya malam itu gue sudah harus memecahkan S$ 50 pertama gue untuk reload sebesar S$ 10.

Begitu sampai di stasiun Bukit Batok, mata gue langsung jelalatan mencari makanan. Gila, perut gue lapar banget. Meskipun ada Mc Donald’s berdiri megah di seberang stasion, tapi masa sih jauh-jauh ke Singapore, gue makannya malah di Mc D lagi.

Untunglah dekat situ, ada juga Kopitiam (foodcourt Singapore). Gue milih makan nasi rames dengan lauk bola-bola daging babi, terong sambal dan tumis brokoli jamur. Sayangnya makanannya hambar dan dingin, jadinya gue makan lagi deh setelah nyampai di rumah kakak sepupu ;p

Well, it’s been 3 months since I did my first adventure as a backpacker. Singapore and Kuala Lumpur were my destination because they’re not really far from my hometown, Jakarta.

The plane tookoff from Soekarno – Hatta airport around 14.15 and landed at Changi airport at 16.25, 30 minutes earlier than the schedule.

For Indonesians, just don’t forget to bring copies of your KTP, NPWP and also your passport (page 1, 2 and 48). You should bring your NPWP card to avoid paying fiscal fee Rp 2.500.00,00.

I couldn’d resist to update my status on Facebook when seeing there was free internet service inside the airport : ‘Rosa has just arrived safely at Changi airport’, hahaha...

After asking direction from several people, I finally found that the nearest MRT station which was in the Terminal 3.

At first, I didn’t have any idea about the exact location of my cousin’s place which is in Bukit Batok West Avenue. Fortunately, a nice Indian woman around my age told me to change the train line when I arrived at Jurong East station.

The first line I took was the green line which route is from Changi airport to Joo Koon and the second line - which is red – is from Jurong East to Marina Bay.

It was such a very long trip. I spent S$ 1,98 for that. Too bad, the credit in the EZ Link card that my other cousin gave me in Jakarta, was only left S$ 1 so I reloaded the card for S$ 10.

It had been dark when I finally arrived at Bukit Batok Station. I was exhausted and starving so I decided to have dinner at the nearest Kopitiam (Singaporean foodcourt). My menu was a portion of rice, pork meatball, chilli eggplant and broccoli with mushroom. IT WAS COLD, YUCK!!!


Day 2














Saatnya menjelajah Singapura !! Kakak sepupu nyaranin untuk mendatangi Science Centre dulu. Di sana, gue ngeluarin duit S$16 (S$6 untuk masuk Science Centre sementara sisanya untuk Snow World).

Wanita penjual tiket ngomong kalau dia udah nebak gue orang Indonesia. Pas gue tanya apakah itu karena wajah gue, eh, dia malah nyahut kalau aksen alias logat gue yang Indonesia banget. Hahaha, no wonder kalau ‘My Love My Darling’ pernah bilang kalau gue gak punya that sexy ‘R’ accent, pfff…

Ramai banget suasana saat itu. Mungkin karena lagi jam sekolah yah, jadi banyak banget bocah-bocah berseragam berseliweran di sekitar gue. Sayangnya, gue gak sempat terlalu mengeksplor tempat ini, soalnya masih banyak tempat yang harus gue kunjungi hari itu. Biar begitu, gue cukup puas kok di sana.

Setelah menikmati menu makan siang berupa nasi babi merah dan es teh tarik, gue kembali ke Science Centre karena barang-barang gue masih ada di dalam loker. Apalagi, gue kan belum masuk ke Snow World, yang emang letaknya bersebelahan.

Gue sih gak terlalu nyaranin untuk ke situ karena tempatnya kecil dan kita gak boleh ngambil foto di dalam (soalnya udah ada petugas khusus untuk itu dan biaya nebus fotonya buat gue gak worthed yah, S$13 untuk ukuran 10R atau S$24 untuk 4 foto ukuran dompet alias 2R). Sayang kan duitnya ;p

Oh yah, jangan lupa yah untuk makai/ bawa celana panjang dan juga kaos kaki, kalau gak mau ngeluarin duit untuk nyewa barang-barang itu. Gue aja sempat nyesel, karena harus ngeluarin duit ekstra untuk nyewa sarung tangan, tapi mau gimana lagi, gue ngerasa kedinginan.

Kalau gak penasaran dengan bentuk salju, mungkin gue gak nggak akan datangin tempat ini. Tapi yah, maklum aja, negara kita kan negara subtropis yang cuma kenal dua musim saja, musim hujan dan musim kemarau, hehehe…

Puas bermain seluncuran di atas salju, gue langsung bergegas ke stasiun MRT terdekat, which is Jurong East, untuk pergi ke stasiun City Hall. Begitu nyampe di sana, gue langsung ambil arah kiri dan jalan terus sampai ketemu gereja St Andrew.

Setelah puas bernarsis ria, gue melanjutkan perjalanan dan melewati City Hall, The Old Parliament yang di depannya ada patung gajah (gedung ini sekarang berubah fungsi menjadi The Art House), Asian Civilization Museum (biaya masuknya S$5 tapi gue gak masuk ke sana) dan setelah itu, gue ketemu juga dengan Fullerton Hotel yang tersohor itu.

Satpam di sana bersahabat banget, meski saat itu penampilan gue terlihat gak akan mampu untuk nginap di sana, JJJ. Bapak keturunan India ini bahkan mau ngambilin foto gue dan juga ngasih tahu arah ke Merlion Park. Sayangnya, gue lupa ngambil foto beliau, padahal seragamnya unik lho.

Meskipun Merlion ada di seberang hotel, tapi gue harus jalan cukup jauh juga yah untuk nyampe di sana. Maklum, letak jalan bawah tanah untuk nyebrang cukup tersembunyi dan gak ada jembatan penyebrangan pula di sana. Tapi, akhirnya, gue nyampe juga di Marina Bay.

Gara-gara sibuk moto-moto, gue jadi ninggalin barang bawaan gue sembarangan. Jadinya diambil deh ama tukang sapu jalanan karena dianggap sampah. Untungnya, ada cowok yang ngasih tahu gue dan langsung deh gue nyari tuh tukang sapu. Bukannya gue yang marah, eh, justru dia yang misuh-misuh karena gue sembarangan naruh barang milik gue L

Oh, hampir lupa, gue sempat beli cemilan juga di sana. S$2 keluar dari dompet gue untuk ngebeli gulali (yang warnanya ungu, hehehe…) dan juga es krim kacang merah di atas roti. Mantap kan ;p

Perjalanan hari ini ditutup dengan menyusuri Singapore River. Cuma ada 7 orang di kapal kala itu. Itupun termasuk pengemudi kapal dan penjual tiket. Aturannya, gue naik kapalnya lebih malam lagi biar bisa ngelihat pemandangan Singapore di waktu malam L.

It’s time to explore Singapore!! My cousin suggested me to visit Science Centre first. I paid the entrance fee for S$16 (S$10 for Snow World and S$6 for Science Centre).

The lady who sold the ticket told me that she had guessed that I’m Indonesian, after I said where I came from (Well, it’s not because of my skin or my face, but it’s because of my accent ;p)

It was totally crowded. Pupils in different uniforms were everywhere!! Too bad, I didn’t explore that place much. I still had a lot of places to visit that day, but surely, I had fun there.

After having lunch, I went to Snow World, next to Science Centre. It’s not really recommended to visit because it’s rather small and we are not allowed to take pictures inside (They already have staff for that thing). Oh, don’t forget to use long pants and socks or you would have to rent for them.

The reason why I went inside was just because of my curiousity. Remember, I come from a sub-tropical country that makes me never see the snow before, hehehe…

My next destination then was the nearest MRT station (Jurong East) to go to the City Hall station. From there, I turned left and just walked until I found St. Andrew Church. After that, I walked again and found the City Hall, The Old Parliament with its elephant statue which is now become The Art House, Asian Civilization Museum (its entrance fee is S$5 but I didn’t come inside) and finally, I passed that famous Fullerton Hotel.

The security staff was very friendly. Beside took my pictures in front of this hotel, he also told me the direction to go to Merlion Park. Too bad, I forgot to take his picture to show how unique his uniform was.

Merlion is just opposite the hotel but I should walk quite far, since it’s not easy to find the subway to cross the street (there wasn’t any bridge over there) but finally, I arrived at Marina Bay.

I was busy taking pictures and leaving my stuffs unattendedly, so the cleaning service took them away. Luckily, a man saw this and told me about that. When I came to have my things back, that cleaning service said some blablabla thing to me, about how bad I was, leaving my things carelessly L

Ah yes, there, I spent S$2 to buy a candy cotton (its colour was purple!!)and red bean ice cream in a bread, yummy ;p

I ended the trip that day by cruising the Singapore River. There were only few people on the boat : 7 persons included me and two staffs !!! Well, it wasn’t really worthed to pay S$13 for, since it wasn’t getting dark yet so I couldn’t get the view of Singapore at night from the boat L.



Day 3








Lantaran kebanyakan jalan kemarinnya, hari ini gue bangun telat. Yah udah deh, gue mutusin untuk pergi ke Little India. Dari stasiun Bukit Batok, gue ganti jalur MRT dua kali. Setelah nyampe di Jurong East, gue naik jalur hijau sampai Outram Park dan dari situ, gue nyambung naik jalur ungu. Terus terang, gue paling gak suka naik jalur warna ini, soalnya selain harus turun eskalator, gue juga harus jalan cukup jauh setelah turun dari jalur hijau.

Setelah jalan beberapa ratus meter, gue ngelihat ada toko kecil yang menjual perhiasan. Langsung aja gue ke sana untuk memilih-milih barang. Waktu nanya sama penjaga toko, nenek-nenek berbaju sari, soal harga gelang yang gue pegang, eh, tuh nenek dengan kasarnya merampas gelang itu dari tangan gue. Ngebetein banget kan? Jadinya gue langsung pergi aja dari situ dan nyari toko yang lain. Untung aja ketemu dan pelayan tokonya bersahabat pula .

Habis itu, gue makan di sebuah restoran India. Pelayannya nyaranin untuk mesan setengah porsi aja, yaitu satu potong Roti Prata. Untuk minumannya, gue mesan Massala Tea. Rasa tehnya hampir sama dengan the susu, namun, ada rasa pedas-pedasnya dikit. Kata pelayannya, teh ini dibuat dari 16 bumbu, seperti jahe, kayu manis dan lain-lain.

Gue terus jalan lagi ke Sri Veeramakaliamman Temple. Lagi ada upacara keagamaan di sana. Sebenarnya kita diperbolehkan masuk ke dalam, tapi harus mencopot sepatu dulu. Tapi karena malas, yah udah deh, gue hanya puas foto-foto aja dari luar .

Tujuan terakhir : Mustafa Centre. Yup, tempat ini emang terkenal banget di kalangan turis Indonesia buat beli oleh-oleh. Hampir semua barang ada di sini. Oh yah, kalau kamu kehabisan dollar, di sini juga ada money changer kok. Mereka menerima uang Rupiah dan ratenya juga lumayan bagus.

I was very exhausted the day before so I woke up late on my third day. This time, I decided to go to Little India. From Bukit Batok (the red line), I change the train line twice. First, I changed to the green line at Jurong East, then I took the purple line at Outram Park. The things I hate most from taking this line are because we should take an escalator downstair and walk quite far from the green line .

I passed several Indian restaurants before I found a little shop selling accessories. Well, I’m addicted to those things, bracelets, necklaces, earrings, you name it . Too bad, the shopkeeper (an old lady in sari) treated me badly, so I decided to leave this shop immediately. She grabbed sarcastically the bracelets which I held, when I asked her their price. Hello, I’m not a thief, huh??? I then bought the bracelets from other shop which its shopkeeper treated me nicely .

I then ate at an Indian restaurant. The waiter suggested me to buy just a half portion (which is only a slice of Roti Prata). I also asked him to serve me Masala Tea (its taste is like milk tea, but it has about 16 spices on it like ginger and cinnamon).

From there, I went to Sri Veeramakaliamman Temple. The holy ceremony was held at that moment. We should take off our shoes before entering that place but I was about too lazy to do that  so I just took pictures from outside.

My last destination that day was Mustafa Centre. It’s time to shop !!! Yeah, this place is well-known as a tourists’ destination to buy souvenirs ;p. You can find almost everything here ;p.

27 November 2009

Nyanyi Bagi Dia


Angkatlah suaramu

Puji dan serukan nama Yesus

Tanggalkan bebanmu

Tak perlu kau khawatir

S'bab DIA sanggup


Gerakkan kakimu

Menarilah dan bertepuk tangan

Bersukacitalah

Tak perlu kau khawatir

S'bab DIA sanggup


S'karang nyanyikan kebesaranNYA

DIA kuat dan penuh kuasa

Bersorak-sorai karena kasihNYA t'lah datang melawat kita

Nyanyi bagi DIA

28 October 2009

Mental Bangsa Jajahan



Beberapa hari lalu, tepatnya hari Jumat (23/10), gue mengalami pelecehan oleh seorang petugas informasi di Senayan City. Gila aja, mentang-mentang tampang gue pribumi asli, terus dengan semena-menanya dia nyuekin gue gara-gara ada bule yang datang setelah gue. KUTU KUPRET!!!

Ceritanya saat itu, gue mau datang ke pameran fotonya Jerry Aurum. Gara-gara keteledoran gue, SMS undangan yang gue dapat dari panitia, tak sengaja terhapus dari inbox gue. Jadinya yah, mau gak mau, gue harus pergi bertanya pada petugas informasi untuk tahu letak persisnya pameran itu.

Dasar sial, kala itu, dua petugas di sana lagi sibuk. Yang satu lagi melayani pengunjung lain, sementara si kutu kupret sialan ini lagi berbicara di telepon. Dengan sabar, gue berdiri manis di depan dia, menunggu pembicaraan di telepon selesai.

Baru aja tuh si cewek sialan ngeletakin telepon, datang seorang pria bule yang kemudian berdiri di samping gue. Gak tahunya, mata si bego itu langsung menuju ke arah si bule. ANJING!!! Loe gak ngeliat apa, kalau gue udah lama berdiri bego nungguin loe selesai ngobrol di telepon.

Untungnya, gak seperti si cewek bego itu, bule ini punya moral. Dia malah mempersilahkan orang lain yang ada di sampingnya untuk dilayani cewek bermental bangsa jajahan ini.

Begitu kejadian ini gue ceritain ke teman-teman gue, mereka malah bilang seharusnya gue ngelaporin dia ke manajer mal. Ok, next time, I'll do that thing. Lihat ajah nanti ;p

26 October 2009

Ngaku Dosa Dulu Ah...


Terus terang, ada satu hal yang selama lebih dari satu minggu ini gue umpetin dari teman-teman gue (Baca mereka-mereka yang peduli betul dengan kondisi batin gue tiga atau empat bulan yang lalu). Soalnya gue udah bisa ngebayangin reaksi mereka kalau tahu, gue nekad bertemu dengan dia, you know who. Ada yang bakal bilang, 'You What???', 'Ngapain sih loe' dan macam-macam reaksi yang bermakna sama : Gak ada gunanya loe ketemuan ama bajingan itu lagi.

Entah, waktu itu otak gue lagi korslet, tapi waktu gue dengan nekadnya menemui dia, gue tahu persis, kalau rasa cinta gue ke dia itu udah RAIB. Ibaratnya tanaman, perasaan gue bukan sekedar layu dan masih bisa kembali bersemi setelah disiram secara intens lagi, tapi terus terang, perasaan itu emang gue dicabut ampe ke akar-akarnya.

Awalnya, gue sempat jaim, saat melihat dia dari jarak dekat. Sialnya, di sana, gue menemui beberapa orang yang tahu kisah percintaan gue dengannya dan mereka dengan jitu menebak kalau kedatangan gue ke situ adalah atas ajakannya.

Well, singkat cerita, dia akhirnya mengajak gue untuk duduk di dekatnya, berhadap-hadapan dengan salah seorang mantan boss-nya. Dari diam seribu bahasa, akhirnya gue gak tahan juga untuk mengobrol dengannya. Tak berapa lama, entah karena terbawa suasana, kami akhirnya saling bergenggaman tangan (yang tentu saja dilakukan secara sembunyi-bunyi, di bawah meja, hihihi...)

Acara malam itu akhirnya berakhir. Sialnya, saat kami menuju tempat parkir motor, orang yang paling gue hindari memergoki kami berdua, malah berada di belakang kami. Sial...sial...sial...

Terus terang, gue enjoy malam itu. Gue menikmati betul kebersamaan kami, baik saat kami duduk bersebelahan di dekat warung rokok ataupun saat aku berada di boncengannya dalam perjalanan pulang kala itu. I do love being near him but he's not being the most important thing in my life anymore ;p

13 October 2009

Ripley's Believe It Or Not, Genting Highland, Kuala Lumpur

At the front door :





Robert Ripley when he was in Borobudur Temple, Central Java, Indonesia



Can you try this at home ?



Replica's St Basil Cathedral Moscow, made by Len Hughes, Australia, from matchstick



Me compared to The Tallest Man who ever lived :



One day, I'll be in front of the real Eiffel Tower ;p



Man with two eyes



HELP ME!!!


30 September 2009

Minta Sumbangan Kok Maksa?



* Semoga apa yang saya tulis ini tak membuat saya sampai harus bernasib sama seperti Prita Mulyasari*

Sekali lagi, konsumen dirugikan oleh ulah sebuah supermarket besar yang ada di Mal Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Kali ini, saya sendiri-lah yang menjadi korbannya. Minggu (28/09) kemarin, saya berbelanja tepung beras untuk bahan pisang goreng di sana. Tak seperti biasanya, saat itu, saya tidak membawa dompet receh ‘kebesaran’ saya.

Total belanja saya malam itu tidak berakhir genap, Rp 4.850,- dan saat saya melihat struk pembayaran, tertera sumbangan sebesar Rp 150,-. Sumbangan itu adalah INISIATIF MEREKA SENDIRI, karena dari awal mereka tidak pernah menanyakan kesediaan saya untuk memberikan SUMBANGAN yang bersifat PAKSAAN tersebut.

Dengan muka sedikit merengut, saya tetap membiarkan PEMAKSAAN itu terjadi. Saya lagi malas ribut. Namun dalam hati, saya bertekad untuk selalu menenteng-nenteng dompet receh saya kelak.

Sialnya, saya tiba-tiba terserang batuk dan mau tak mau, saya harus kembali ke sana, di hari yang sama untuk membeli obat batuk dan beberapa perintilan lainnya yang tidak terlalu penting.

Saat sang petugas membuka kasir miliknya, iseng-iseng saya mengintip ke dalamnya. Ternyata memang tidak tersedia cadangan uang receh atau dengan kata lain, mereka memang sengaja mencari gampangnya saja, dengan tidak mau repot-repot mempunyai kembalian uang kecil untuk konsumennya.

Benar saja, mereka menggenapkan begitu saja belanjaan saya yang kedua tersebut. Itulah sebabnya mengapa saya akhirnya memutuskan untuk menulis surat komplain ini sekarang.

15 September 2009

An Impolite (Indian) Man Near Batu Caves

I beg your pardon to mention a race, but it's not because I'm racist. I'm not like that at all. It was because of an horrible conversation I had when I was waiting for the bus to take me to Bukit Bintang, where I'm staying now at the moment.

Well, I'm quite brave to leave Batu Caves when the night appears. It's quite far from Kuala Lumpur and I'm quite strange with the place which is surrounded by a lot of Indian people.

I asked the people nearby to ask where to wait for the bus number 11. They said I can wait in that bus stop. I then went there. Then he came. At first, I asked him whether I waited in the right direction. He said yes.

He said several things uncommonly like I have good body. I said thank you politely. Then he asked me where I come from. I answered I'm Indonesian. He then responded that he has big passion (???) with Indon girls.

"Sorry, I'm Indonesian," I corrected him. (Well, I don't like to be called Indon, for sure)



He then asked me to go for a drink.

"I'll pay," said him. (Hello, I still can afford myself for a drink, Sir!!!)

He mumbled something like 'I have wife six or seven'.

'Huh?'

"My wife and I, we can do three or four games," he explained.

'Huh?'

'Yeah, I can do three or four games (he mentioned sex here) with my wife," told him again.

"Well, it's not my business , Sir," said I, then using my earphones again.