16 January 2009

Qui Veut de Moi? Personne


Baru aja ngelihat status di msn messenger-nya dia, lelaki Perancis yang gak usahlah disebutkan namanya. "Qui veut de moi? Personne", yang kira-kira artinya "Siapa yang mau sama saya? Tidak seorang pun"

Kalau boleh jujur, itu semua total kesalahan dia. Dua tahun lebih gue mencoba bersabar, tapi gue selalu merasa langkah kami jalan di tempat. Gue coba kasih solusi, yang menurut gue *cara benar seorang pria yang gentleman yang ingin serius dengan wanita yang ia cintai*, tapi dia menolak. Gak heran kalau lambat-laun gue jadi ilfil ke dia.

Waktu gue ceritain ke abang tentang alasan gue udah gak betah sama dia, konflik yang gak pernah ditemukan jalan keluarnya *keengganan dia datang ke Jakarta untuk menemui kedua orangtua gue (waktu itu papa masih hidup)*, abang malah balik bertanya, "Kenapa sih cowok itu kayak githu?"

Yang lalu biarlah berlalu, sekarang toh, gue udah menemukan seseorang yang mau datang ke rumah gue, menemui orangtua gue, hehehe...

14 January 2009

2 Korintus 6 : 14



Apa yang tengah gue jalani saat ini dengan Si Abang mengundang berbagai macam reaksi. Maklumlah, kami mempunyai perbedaan yang sangat prinsipal, keyakinan. Sampai-sampai, salah satu rekan guru mamaku tercinta mencoba menasehati. Aku rasa sih, ini semua lantaran curhat mama tentang borunya yang sedang bermain api.

Jadinya, begitu nyampe di rumah tadi sore, mama ngasih selembar kertas berisi satu ayat Alkitab, 2 Korintus 6 : 14. "Baca, dari ibu Dianne," begitu kata mama. Bukannya bergegas mengambil Alkitab, aku malah menjawab pendek, "Oh!" dan kemudian melanjutkan permainan di komputer.

Malam harinya, selagi asyik bercengkrama di telepon dengan Abang, mama datang menghampiriku di kamar. "Udah kau baca?," cecernya. "Oh itu, janganlah kamu menjadi pasangan yang tidak seimbang, sebab apakah persamaan antara yang gelap dan yang terang?," jawabku, santai.

Heran dengan jawabanku, mama berucap, "Kok tahu?"

Yah iyalah ma, secara aku nasehatin teman-temanku pake ayat itu, hehehe...

06 January 2009

Hanya Kamu Yang Bisa



Tanpa terasa kau curi hatiku
Dengan berbeda caramu menaklukan hati kecilku
Berjuta rayuan yang pernah ku rasa
Namun tak pernah tersentuh tak ada yang mengesankanku

Tapi semua berbeda
Saat kau ada disini
Mempesonakan aku selalu

Hanya kamu yang bisa
Membuat aku jadi tergila-gila
Membuat aku jatuh cinta
Karna tak ada yang lain sepertimu

Berkali ku mencoba
Berpaling dengan makhluk indah lainnya
Namun tak pernah ku rasakan
Bila seindah bercinta ku denganmu

23 December 2008

Bila Cewek Parbada Dikadalin

Hari Sabtu (22/12) kemarin gue boros lagi. Tapi that’s not the point yang mau gue ceritain di update gue hari ini. Ini tentang petugas tiket tempat parkir dekat Plaza Semanggi. Sumpah, gue enek banget sama tuh orang.

Gimana enggak, dia ngasih gue tiket bekas yang udah lecek banget. Pastinya, uang yang gue kasih bakal masuk ke kantong pribadinya. Hmmm, usaha korupsi yang enggak cantik.

Bayangin aja, kalau ada 100 tiket yang dia daur ulang, berapa ‘untung’ yang dia rogoh? Rp 200000,- !!! Ckkkkk…. Sayangnya, dia gak tahu siapa perempuan yang dia kasih tiket bekas itu. Udah tahu gue parbada, eh, diajakin berantem.


Yup, begitu dapat tempat parkir, gue langsung ajak Hapsari mendatangi tempat pos yang sama. Dengan alasan mau ditagih ke kantor, gue minta dikasih tiket yang baru. Gue sih gak ngelihat jelas wajah koruptor kelas teri tersebut kala itu, tapi pastinya dia tentu kecewa, memikirkan uang 2000 yang gak jadi masuk kantong dia pribadi. Coba yah, semua orang setegas gue, gue yakin kebiasaan korup seperti itu bisa diberantas.

09 December 2008

Speechless

Udah lama memang gue nggak nge-update blog gue ini. Bukannya meng-anaktiri-kan, tapi gue memang punya alasan kuat. Maklumlah, kerjaan gue itu, sepanjang hari hanya menulis dan menulis, jadi agak mabok juga yah, kalau harus terus meng-update kegiatan terbaru gue setiap hari di blog ini.

Terus terang, my life won't be the same anymore. Pasalnya, Tuhan Yesus sudah memanggil papa kami tercinta ke pangkuanNYA. Sakit memang, semua terasa seperti mimpi, karena begitu cepat dan tak disangka-sangka.

Bagaimana enggak, satu hari sebelum papa terserang stroke, aku masih sibuk ngurusin segala tetek-bengek untuk liburan ke Singapore, mengingat permohonan cuti gue udah diapprove sama kantor. Tapi yah, emang betul, manusia boleh punya rencana, tapi Tuhan juga yang menentukan.

Dengan hati (sok) ditabah-tabahin, kami sekeluarga, mama, aku dan ketiga adik sepakat untuk mencabut ventilator yang selama ini membantu pernafasan papa kami tercinta. Tepatnya tanggal 20 November 2008, pukul 16.32, dengan diiringi doa dan nyanyian rohani, kami berlima menemani papa menghembuskan nafas terakhirnya.

Sebenarnya, secara medis, papa memang sudah dinyatakan tiada, di hari Selasa, 18 November 2008, ketika ia terkena serangan stroke. Maklumlah, serangan stroke-nya tidak main-main karena mengenai batang otaknya, yang pecah di sepuluh titik serta sekitar 1,3 liter darah telah menggenangi otaknya.

Jujur, sampai saat ini pun, aku masih terus menangis, bila memikirkan kenangan-kenangan bersamanya. He's trully a type of family man, pria yang berjuang untuk keluarganya. Ayah duniawi yang benar-benar mencerminkan kasih Bapa Sorgawi di surga. True hero for our family.

Gak tahu kenapa, di hari-hari terakhirnya, waktu terasa begitu cepat berlalu, sehingga aku tidak bisa mengingat persis kenangan-kenangan terakhir bersamanya. Hanya saja, dua hari sebelum kejadian itu, entah mengapa, aku tergerak mendekati kedua orangtuaku yang sedang asyik bercengkrama di atas tempat tidur.

Seperti biasa, mama mengusirku secara halus, 'Ngapain kamu ke sini, gangguin kami pacaran aja,' Kujawab saja, 'Aku ingin dekat bapak.' Kami kemudian berbaring bertiga, aku di pojok tempat tidur, mama dan kemudian papa. Kala itu, papa sedang sibuk mengurus acara penghiburan bagi Kak Yana, istri salah satu sepupuku, tepatnya istri paribanku sih, yang baru saja kembali ditinggal orangtuanya.

Tak berselang lama, papa mencondongkan tubuhnya ke arahku. Dengan mata berbinar, ia bercerita tentang Kathleen, keponakanku yang adalah cucu pertamanya. Maklumlah, Sabtu sore-nya, papa sangat terpuaskan karena diminta menjagai 'si botak tukang ences' itu, seraya menunggu adikku selesai mengajar di YPM.

Betapa bahagianya ia bercerita kala itu. Dengan antusias, ia menyebutkan bagaimana Kathleen yang selalu menangis, ketika melihat mamaku yang mencoba menggendongnya. "Takut ngelihat mama, karena seperti nenek lampir," begitu ujarnya, seraya tertawa terbahak-bahak.

Meskipun aku tahu, papa tentu masih ingin terus melihat Kathleen tumbuh, mendampingku di hari pernikahanku dan kedua adik laki-lakiku, menghadiri tardidi alias baptisan Kathleen, acara wisuda Odith dan Deynes dan masih banyak lagi yang lain, tapi Tuhan Yesus ternyata lebih mencintainya. Kami yakin, ia sudah bahagia di sana dan kami akan membuatnya tersenyum, melihat kami dari surga sana.

27 August 2008

TUHAN, aku minta yang kayak gini, satu aja...

Hohoho, tumben-tumbennya gue minta pendamping hidup sama Tuhan. Permohonan (dari hati terdalam) ini keluar begitu saja dari hatiku, saat kebaktian Minggu malam di Citraland, baru saja akan dimulai. Gara-garanya, aku melihat seorang pria berwajah lumayan dan terlihat mapan, sedang asyik bermain gitar di depanku, hohoho...

Ngomongin pernikahan emang kagak pernah ada matinya. Apalagi buat gue, yang di usia ke-28 ini, masih diberi kesempatan sama Tuhan untuk merasakan asyiknya jadi seorang single.

Buat gue sih, keadaan itu bukanlah menjadi masalah besar. Apalagi, sampai saat ini pun, gue masih tetap punya comfort zone, dimana banyak sahabat gue yang juga memilih kebebasan yang seperti gue. Entahlah kalau kelak mereka menikah, pasti gue akan mulai merasa 'terancam' dan jadi kelimpungan untuk segera mengikuti jejak mereka, hahaha...

Satu hal yang pasti, mereka pulalah yang menjadi 'tameng' ketika mama bertanya soal kapan aku akan menikah.

Jujur aja nih, soal jodoh, memang sempat gue singkirkan jauh-jauh dari benak gue. Apalagi ketika Tuhan mengijinkan gue mencicipi cuci darah selama 2 tahun 8 bulan. Selama itu, prioritas utama gue adalah 'how to get rid of being on dyalisis for the entire of my life'.

Tuhan akhirnya menjawab permohonan hati gue ini, lewat operasi cangkok ginjal yang kujalani di negeri Tirai Bambu, awal Juli 2004 lalu. Setelah itu, prioritas hidup gue pun otomatis berubah, karena gue pengen cepat-cepat lulus dan menjadi seorang sarjana.

Hampir satu setengah tahun penantian itu sebelum akhirnya aku resmi menyandang gelar 'Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia' dan lagi-lagi, sebuah impian baru kembali muncul, "Tuhan, aku pingin punya pekerjaan."

Untunglah, gue gak perlu berlama-lama menunggu. Tujuh bulan setelah dinyatakan lulus, akhirnya gue pun mendapat pekerjaan pertama. Dekat rumah pula, jadi gak perlu tua di jalan dan berat di ongkos.

Lagi-lagi, aku 'bargain' sama Dia. Aku bilang, "Tuhan, aku lagi enjoy banget nih sama kerjaan aku. Entar aja deh kasih jodohnya." Eh, gak tahunya, jadi keterusan sampai sekarang.

Jujur, gue menikmati betul status single gue, walau terkadang emang sih, terbersit juga di benak gue untuk punya anak darah daging sendiri. Tapi, entahlah, bagaimana rencana Tuhan. Yang pasti, kita cuma bisa berserah aja.

24 August 2008

2 ans apres...

Gak terasa yah, udah dua tahun gue kerja di infotainment. Banyak banget suka-duka yang gue rasakan, but mostly, lebih banyak sukanya.

Satu hal yang paling gue appreciate dari hasil kerja gue selama ini adalah banyak orang yang ngebaca tulisan gue. Ini terbukti dari banyaknya situs yang nge-link ke situs krosceknews.com. Apalagi kalo di sana ada embel-embel, 'Rosa Hilda/ krosceknews.com' (ehm...ehm...).

Maklumlah, sebelumnya, tulisan gue hanya untuk kalangan terbatas. Maksudnya, cuma untuk teman-teman sesama anggota P3MI Jakarta Pusat saja, lewat warta, alias buletin mingguan. Itu pun lebih banyak hasil translate-an, bukan tulisan yang pure milik gue.

Sukacita kedua itu, kalau ada respon dari nara sumber. Itu artinya kalau mereka baca tulisan gue. Beberapa respon yang masih gue ingat antara lain, protes karena foto mereka di sana enggak banget dan minta diganti (maab yah Velove Vexia en Paola Tobing, hehehe), pujian atas kisah cinta mereka, manajer artis yang minta artisnya yang lain dimuat setelah ngelihat profil artis asuhannya di situs ini dan muasih buanyak yang lain deh.

Kalau soal ketemu banyak orang, berinteraksi dengan banyak orang serta memperluas pergaulan, itu sudah pasti yah. Maklumlah, hampir setiap hari kita memang berinteraksi dengan banyak orang, even itu hanya lewat telepon. Nilai plusnya buat gue, yah, gue jadi lebih luwes, dimana gue mulai bisa berbasa-basi yang tidak basi, bisa membaca 'mood' orang, bisa merayu orang. Pokoknya buanyak deh.